BELAJAR DARI LUKMAN SARDI (TRENSOSIAL)

Jakarta 14 Juli 1971 Lukman Sardi lahir ke dunia. Dia disambut bahagia oleh keluarganya. Tapi tidak usah heran karena semua orang tua juga begitu. wkwkwk. Ayahnya wafat 28 April 2014. Lukman Sardi sendiri telah membintangi lebih dari 50 film. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang gigih dalam mengejar cita-citanya.

Kapan tepatnya Lukman sardi pindah agama belum saya ketahui pasti. Namun berita yang beredar disebutkan bahwa anak pemain biola legendaris ini  sudah berbeda sejak 6 tahun yang lalu. Kepiawaiannya menyembunyikan jati diri merupakan hal yang sangat luar biasa.

Saat ini media memperbincangkan putra bangsa yang satu ini. Seolah tak pernah kehabisan bahan, pro dan kontra terus mengalir terkait keputusannya tersebut. Saya sendiri tidak mau berkomentar banyak soal kepuutusannya itu.

Apa yang bisa dipelajari dari Lukman?
Biar bagaimana pun aktor kawakan ini sudah membintang lebih dari dua kodi film. Ini menandakan kegigihannya dalam dunia peran patut diacungi jempol serta bisa ditiru. Apa apa yang terjadi sekarang adalah keputusannya tanpa mendapat paksaan dari pihak mana pun. Dia mengaku ini adalah perjalanan spiritualnya.

Sebagai mantan saudara seiman, kita hanya bisa mengelus dada sedih dan berdoa agar saudara kita yang lain dibimbing agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. Semoga pintu hidayah tetap terbuka. Tidak usah menjadi haters yang menghujat, mencela dan sebagainya, kita perbaiki diri, permantap iman.

Tugas kita menjadi lebih berat, bisa jadi kepindahan mereka disebabkan oleh kita, tanpa sadar. Banyak dari kita yang ber KTP Islam namun kelakuan masih jauh, sementara agama itu dinilai dari penganutnya. Orang tertarik terhadap suatu keyakinan karena umatnya damai, tenteram dan bersahaja.

Intropeksi semua pihak sangat diperlukan.
Demikianlah apa yang bisa saya tulis.
Bila ada kata-kata yang kurang berkenan itu datangnya muri dari saya pribadi.
Bila ada benarnya itu datangnya dari Zat yang maha benar.

Semoga puasa kita tidak terkotori dengan menghujat yang lain. Apalagi sesama muslim yang terlibat pro dan kontra. Artikel ini sama sekali bukan agenda Ghibah. bia itu terjadi, ijinkan saya menghubungi dokter terdekat. Jiaaaah.

Saya sendiri besar dan hidup di tengah umat kristiani. Ibu saya mualaf, Tante saya juga ada yang mualaf. Saudara saya ada yang pindah agama. sepupu saya yang orang tuanya mualaf juga ada yang pindah agama. Rumitkan. Kenapa mereka tidak tersorot? Karean dalam pandangan media mereka bukan siapa-siapa. Tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan mereka.

Sebenarnya kejadian semacam ini sudah banyak terjadi. Hanya sedih-sedih dan sedih yang terasa, tidak ada yang bisa dilakukan. Hak Asasi Manusia melindungi kebebsan beragama dan sudah disepakati umum, Bahkan UUD juga sudah mencantumkan.

Sekali lagi mari menjaga Iman, memperbaiki akhlak sebab agama dinilai dari penganutnya. Muter-muter ya. Plak.

(Ini kebiasaan, kirain udah mau ditutup tausiahnya eh, masih ada aja yang disampaikan.Saya hanya nyontek.)








Related Posts:

0 Response to "BELAJAR DARI LUKMAN SARDI (TRENSOSIAL)"

Posting Komentar